Situs resmi Adiwarman A. Karim Ekonomi dan Keuangan Syariah di Mancanegara
  • Create an account
    *
    *
    *
    *
    *
    Fields marked with an asterisk (*) are required.
YOU ARE HERE: Home article Ekonomi dan Keuangan Syariah di Mancanegara

Ekonomi dan Keuangan Syariah di Mancanegara

E-mail Print PDF

Genderang kebangkitan ekonomi dan keuangan  syariah semakin menggeliat diseluruh penjuru dunia.   Indikator dari kebangkitan ini ditandai dengan semakin besarnya volume dan transaksi bisnis berbasiskan syariah, semakin menguatnya pembangunan infrastruktur kelembagaan yang mendukung perkembangan ekonomi dan keuangan syariah, serta penyebaran institusi keuangan syariah yang semakin meluas ke berbagai belahan dunia.

Volume dan transaksi bisnis berdasarkan prinsip syariah secara global mengalami pertumbuhan kurang lebih 15-20% per tahun. Berdasarkan data dalam Ten-Year Framework and Strategies (IFSB, 2007), jumlah institusi keuangan syariah mencapai 284 institusi, yang beroperasi di 75 negara, yang mengelola US$ 250 milyar (tidak termasuk US$ 200 milyar dari Islamic Windows dari bank konvensional), US$ 300 milyar, sedangkan sisanya kurang lebih US$ 55 milyar tersebar dalam sukuk, reksadana syariah, asuransi syariah dan berbagai instrument keuangan lainnya. Pada akhir tahun 2010 diperkirakan total asset industri keuangan syariah ini diperkirakan mencapai US$ 1,5 trilyun.

Indikator kedua dari perkembangan ekonomi dan keuangan syariah global adalah semakin menguatnya pengembangan infrastruktur kelembagaan. Milestone awal pengembangan infrastruktur kelembagaan pendukung ekonomi dan keuangan syariah dimulai dengan pendirian Islamic Development Bank (IsDB) pada tahun 1975 di Jeddah Saudi Arabia. Lembaga ini mengembangkan berbagai bentuk kerjasama keuangan dengan berbagai institusi pemerintah dan swasta di berbagai negara. Untuk memperkuat pengkajian dan pelatihan terkait ekonomi syariah, maka pada tahun 1981 didirikanlahThe Islamic Research and Training Institute (IRTI).

Seiring dengan berkembangnya waktu, maka pada tahun 1991, Bahrain juga memantapkan dirinya sebagai pusat regulasi keuangan syariah melalui lembaga Auditing and Accounting Organization for Islamic Financial Institutions (AAOIFI). Lembaga ini menerbitkan berbagai Sharia Standard dan Accounting and Accounting Standard yang menjadi benchmark dan acuan dalam pengembangan transaksi keuangan syariah termasuk aspek akuntansi dan auditnya. Sebagai organisasi internasional yang independent, AAOIFI beranggotakan 200 anggota yang tersebar di 45 negara diantaranya bank sentral, lembaga keuangan syariah serta berbagai institusi terkait industri keuangan dan perbankan syariah.

Memasuki tahun 2000-an, Malaysia mulai mengembangkan dirinya sebagai salah satu pusat ekonomi dan keuangan syariah global. Inisiasi ini dimulai dengan pendirian The Islamic Financial Services Board (IFSB) yang berkantor pusat di Kuala Lumpur. Lembaga ini dimaksudkan sebagai international standard-setting body terkait dengan pengaturan dan pengawasan untuk memastikan stabilitas dan kesehatan agar industri keuangan syariah (perbankan, pasar modal dan asuransi) semakin hati-hati dan transparan dalam mengaplikasikan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip syariah.

Sampai dengan akhir November 2009, IFSB terdiri atas 193 anggota termasuk didalamnya 49 otoritas pengatur dan pengawas dari berbagai negara dan lembaga keuangan dunia serta 138 institusi keuangan syariah yang tersebar di 39 negara. Sampai dengan saat ini sudah diterbitkan 12 Standard, Guding Principle, dan Technical Note yang diadopsi oleh lembaga keuangan syariah di seluruh penjuru dunia. Selain ketiga lembaga tersebut, berbagai kelembagaan pendukung keuangan syariah juga telah didirikan, antara lain International Islamic Financial Market (IIFM), General Council for Islamic Bank and Financial Institution (CIBAFI), Arbitration and Reconciliation Center for Islamic Financial Institution (ARCIFI), International Islamic Rating Agency (IIRA), dan Liquidity Management Center (LMC).

Penyebaran aktivitas ekonomi dan keuangan syariah yang meluas keseluruh penjuru dunia merupakan indikator ketiga dari perkembangan ekonomi dan keuangan syariah. Pada awalnya ekonomi dan keuangan syariah berkembangan di negara-negara Timur Tengah, misalnya Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Kuwait, Jordan, Iran, Bahrain, Mesir, Nigeria, Sudan dan sebagainya. Perkembangan tahap berikutnya adalah ke berbagai negara yang penduduknya mayoritas muslim antara lain Malaysia, Pakistan, Indonesia, Bangladesh, dan sebagainya.

Pada saat ini, industri keuangan syariah semakin berkembang ke negara-negara barat maupun negara non muslim. Bahkan berbagai pusat keuangan dunia seperti London, Singapore, dan Hongkong mencanangkan dirinya sebagai International Islamic Financial Hub. Negara-negara di kawasan Asia yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang tinggi seperti Cina, India, dan Jepang sudah mulai menerbitkan sukuk untuk membiayai pengembangan infrastruktur dan pengembangan bisnis di negaranya. Negara-negara di kawasan Eropa, Australia dan Amerika juga semakin menerima kehadiran transaksi ekonomi dan keuangan syariah. Pada 2-3 tahun terlahir, perbankan syariah dan intrumen keuangan syariah lainnya mulai ditransaksikan di Australia, New Zealand, Italia, Rusia, Jerman, Perancis, Luxemburg, dan Swiss. Negara di kawasan benua Amerika seperti Amerika Serikat, Kanada, dan Brasil-pun mulai menerapkan ekonomi dan keuangan syariah ini.

Berbagai perkembangan ekonomi dan keuangan syariah di mancanegara tersebut menunjukkan bahwa disaat ekonomi dan keuangan dunia dilanda krisis global, Islam justru bisa menunjukkan solusi sekaligus berperan sebagai rahmatan lil ’alamin.

Ekonomi dan Keuangan Syariah di Mancanegara
 

Statistics

Members : 175299
Content : 154
Web Links : 6
Content View Hits : 730095

Who's Online

We have 17 guests online